Sabtu, 06 Agustus 2011

‘Ayah, Tolong Aku!’ – Kisah Ahmed Siyam yang Dipatahkan Tangannya oleh Polisi Zionis

image
 “Ayah, tolong aku! Jangan biarkan mereka membawa aku!” teriak Ahmed Siyam, bocah berusia 12 tahun, ketika sekitar 50 orang tentara dan polisi Israel bersenjata lengkap menyeretnya.
Hari baru pukul 4 pagi ketika segerombolan serdadu dan polisi Zionis yang dipimpin oleh para intel Shin Bet memaksa masuk ke rumah Ahmed Siyam, meringkusnya dari tempat tidurnya, mengikat kedua tangan dan menutup matanya, lalu menyeretnya keluar. Di sepanjang perjalanan, Ahmed digebuki di dalam mobil sampai babak belur – belakangan diketahuilah bahwa kebrutalan Zionis itu mematahkan tangan kanan Ahmed.
Mel Frykberg menulis dalam Inter Press Service betapa Ahmed kemudian digelandang ke kantor polisi di Kawasan Russia di Al-Quds (Yerusalem) Barat dengan tuduhan melemparkan batu ke arah para serdadu Zionis dalam bentrokan-bentrokan di Silwan, Al-Quds Timur.
Silwan kini menjadi kawasan yang paling sering menyaksikan kekerasan para serdadu Zionis saat berusaha menindas demonstrasi-demonstrasi damai para pemuda Palestina.
Sudah ratusan warga Palestina yang diusir dari rumah-rumah mereka di Al-Quds Timur karena pemerintahan Zionis ingin membangun pemukiman ilegal bagi orang-orang Yahudi. Banyak di antara rumah-rumah warga Palestina yang dihancurkan sama sekali, tanpa ganti rugi apa pun, dan bahkan mereka harus membayar ‘biaya penghancuran.’
Ketika para serdadu itu tiba di rumah keluarga Siyam, awalnya Daud, ayah Ahmed, menolak membukakan pintu dan menuntut agar polisi-polisi Zionis itu menunjukkan bukti perintah penangkapan.
“Tapi mereka mengancam akan mendobrak pintu kalau saya tidak bukakan. Mereka tanya, di mana Ahmed, lalu saya tanya, mau apa mereka mencari dia. Mereka menyuruh saya tutup mulut dan malahan menyerang saya,” tutur Daud.
“Kemudian mereka masuk ke kamar Ahmed dan menyeret dia keluar dan membawanya masuk ke kendaraan polisi. Mereka tidak mau memberitahu, kemana mereka bawa dia dan mencegahku menemani Ahmed.”
“Keesokan paginya, sesudah telepon ke sana kemarin, baru saya tahu bahwa Ahmed ditahan di Kawasan Russia. Sewaktu saya sampai di sana, mereka melarang saya menemui anak saya dan bahkan bilang bahwa anak saya ada di sana. Akhirnya, sesudah minta bantuan seorang pengacara, saya berhasil menemui Ahmed beberapa jam kemudian. Anak saya tampak sangat trauma dan menangis terus,” tutur Daud.
Kepada IPS, Ahmed belakangan bercerita, “Aku takut sekali. Aku tak tahu dibawa kemana dan kedua tanganku diikat kencang sekali ke belakang. Di kantor polisi, mereka menolak waktu aku minta diberi minum. Waktu aku minta ke kamar mandi untuk pipis, mereka malahan menendangi aku. Mereka menginterogasi aku berjam-jam dan menuduh aku melemparkan batu.”
Dua pekan lalu, sepupu Ahmed, Ali Siyam yang baru berusia tujuh tahun, juga ditahan dan diperlakukan sama buruknya dengan tuduhan yang sama. Ketika ayah Ali, Muhammad, mencoba melindungi anaknya, para tentara itu malahan menggebuki kepalanya dengan popor senjata sampai dia harus dirawat di rumahsakit.
Bibi Ali juga ditembak di bagian kakinya dengan peluru logam bersalut karet pada saat mencoba melindungi keponakannya. Ayah dan ibu Ali dilarang mengantar Ali ke kantor polisi.
Pengacara Lea Tzemel yang dimintai bantuannya oleh keluarga Ali mencoba mengunjungi Ali di tahanan, tapi juga dicegah dan bahkan dia sendiri ditahan ketika bersikeras hendak menerobos masuk. Sesudah perdebatan keras barulah Lea Tzemel diizinkan masuk menemui Ali.
Sementara itu, Ahmed dikenai tahanan rumah selama sebulan dan dilarang bersekolah selama pemeriksaan polisi masih berjalan. Bulan depan Ali akan dibawa ke pengadilan dengan tuduhan melemparkan batu.
Menurut sebuah lembaga perlindungan hak anak, Defense International for Children (DCI) – Palestine Chapter, kepolisian Zionis menyeret 1267 anak Palestina ke tahanan dan ke pengadilan karena melempar batu di Al-Quds Timur selama November 2009 sampai Oktober 2010. Sebanyak 31 anak berasal dari Silwan, demikian laporan B’tselem, sebuah organisasi hak asasi.
“Sebanyak 50 persen dari semua anak itu diinterogasi tanpa kehadiran orangtua atau pengacara mereka, dan banyak di antara mereka yang diancam dan disakiti,” demikian Gerard Horton, seorang pengacara di DCI.
“Banyak di antara anak-anak itu yang dimaki-maki, ditempeleng, didorong-dorong, ditendang dan ditinju selama masa interogasi dan dipaksa membuat pernyataan-pernyataan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan akurasinya. Beberapa di antara mereka mendapat ancaman kekerasan lebih lanjut,” ujar Horton.
“Anak-anak ini diculik dari rumah-rumah mereka pada tengah malam, diborgol, ditutup matanya, lalu diinterogasi dalam keadaan trauma dan disorientasi…”
Situasi anak-anak Palestina di Tepi Barat bahkan lebih parah karena undang-undang militer yang diberlakukan di sana. Anak-anak di bawah umur bisa ditahan sampai delapan hari lamanya sebelum dibawa ke pengadilan militer.
“Ada sejumlah anak yang ditembak dengan senjata kejut listrik padahal saat itu tangan mereka dalam keadaan diborgol. Yang lainnya diancam bahwa rumah-rumah mereka akan dihancurkan. Masih ada juga yang diancam akan diperkosa,” kata Horton.
Selama beberapa pekan terakhir ini, sudah lebih dari 25 anak Silwan ditangkap oleh para serdadu Zionis. Milad Ayyash yang baru berumur 17 tahun ditembak mati oleh seorang satpam pemukiman liar Yahudi.

0 komentar:

Posting Komentar