Minggu, 07 Agustus 2011

Palestina Saudara Kita?

Bagaimana perasaan kita apabila Indonesia (kembali) dijajah lantas diusir dari tanah kelahiran kita ini? Tidak hanya itu, apa yang akan kita lakukan ketika nama Indonesia dihapus dari peta-peta dunia dan “dilabeli” dengan mana negara buatan sang penjajah?
Inilah yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina dalam penjajahan Zionis selama lebih dari setengah abad.
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan Bukhari dari Anas radhiyallahu ‘anhu, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya (sesama Muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Sungguh belum sempurnalah iman kita bila belum hadir dalam hati kita keinginan membantu saudara-saudara kita di Palestina karena mencintai mereka. Karena tidaklah disebutkan dalam hadits tersebut apa pun mengenai batasan geografis maupun kebangsaan dari saudara sesama muslim yang harus dicintai.
Sebelum dapat mengakui bahwa kita telah mencintai saudara sesama muslim dalam sebuah ikatan ukhuwah Islamiyah, ada beberapa tahapan yang harus dijalankan seseorang; ta’aruf (mengenal), tafahum (memahami), ta’awun (tolong-menolong), dan takaful (senasib sepenanggungan). Maka sungguhkah kita telah menjadi sebenar-benarnya saudara dengan sesama muslim di Palestina? Sampai sejauh apa tahapan ukhuwah kita?
Bila tahap pertama adalah mengenal, maka kita harus mengetahui bagaimanakah kondisi sesungguhnya di tanah Palestina. Dalam gambar di bawah ini dapat dilihat peta Palestina sebelum dan semasa dijajah Zionis. Pemilik sesungguhnya tanah Palestina justru didesak bahkan dikurung dalam wilayah yang amat sempit sementara Zionis semakin merajalela.
Hal inilah yang dikatakan David Ben Gurion, Perdana Menteri Zionis pertama, dalam buku “The Jewish Paradox” karangan Nahum Goldmann, “Desa-desa Yahudi dibangun di lokasi desa-desa Arab. Kau tidak tahu nama-nama desa Arab tersebut, dan saya tidak menyalahkanmu karena buku-buku geografi tidak lagi ada. Bukan hanya buku-buku geografi yang tidak ada, desa-desa Arab tersebut pun sudah tidak ada lagi. Nahlal ada di lokasi Mahlul, Kibbutz Gvat awalnya adalah Jibta, Kibbutz Sarid ada di tanah Hunefis, dan Kefar Yehushua di tempat Tal al-Shuman. Tidak ada satu pun tempat di tanah ini yang sebelumnya tidak ditempati masyarakat Arab.”
Secara eksplisit David Ben Gurion mengatakan, “Kita harus mengusir orang-orang Arab dan mengambil tempat mereka,” sebagaimana dikutip dalam buku “Ben Gurion and the Palestine Arabs” terbitan Oxford University Press tahun 1985.
Ketika masih ada sebagian orang yang mengatakan Zionis tidaklah menjajah Palestina, mereka belumlah paham dengan kondisi yang sesungguhnya. Karena Gurion pun tidak menyangkalnya bahwa negara yang mereka duduki adalah milik orang-orang Palestina. Gurion menyampaikan ini dalam pidatonya tahun 1983 yang dikutip Simha Flapan dalam buku “Zionism and the Palestinians”;
“Mari akui saja, secara politik kita memang pihak yang menyerang dan mereka hanya mempertahankan diri. Negara ini milik mereka, karena mereka tinggal di dalamnya. Hingga ketika kita ingin menerap di sini, dalam pandangan mereka, kita ingin mengambil negara mereka.”
Segala upaya mengambil tanah Palestina ini dikukuhkan oleh para pemimpin Zionis dari masa ke masa. Usaha ini juga termasuk cara-cara memanipulasi opini publik sehingga Zionis tidak lagi tampak berada di posisi antagonis:
“Tugas para pemimpin ‘Israel’ adalah untuk menjelaskan kepada publik beberapa fakta yang terlupakan seiring waktu. Bahwa sebenarnya tidak ada Zionisme, kolonialisme, dan negara Yahudi bukanlah milik orang-orang Arab yang tanahnya kita rebut,” demikian perkataan Ariel Sharon, Perdana Menteri Zionis, ketika memimpin rapat Partai Tsomet sebagaimana diberitakan Agence France Presse tahun 1998.
Setelah memahami bahwa ada begitu banyak hak saudara-saudara kita di Palestina yang direnggut oleh Zionis, bahkan hak paling dasar sekali pun, maka kita perlu naik pada tingkatan selanjutnya yakni saling tolong menolong dan merasa senasib sepenanggungan.
Dengan doa, harta, pemikiran, da’wah agar semakin banyak saudara muslim lainnya yang tersadarkan, bahkan hingga jiwa kita. Tidak ada lagi alasan berdiam diri, atau merasa belum “terpanggil”. Panggilan itu sudah amat keras, berdentum-dentum di seluruh pelosok dunia. Hanya kita saja yang perlu mengecek telinga dan hati kita, adakah yang menutupi mereka hingga panggilan tersebut tidak terdengar?
Seluruh dunia kini bergerak. Bergegas. Dalam berbagai gerakan perjuangan untuk Palestina yang menggelombang menuju kemuliaan Al-Aqsha, kebebasan Gaza, dan kemerdekaan Palestina. Tinggal kita saja yang perlu menengok lagi hati nurani dan identitas keislaman kita. Telah setarakah rasa cinta kita terhadap saudara-saudara kita di Palestina seperti kita mencintai diri sendiri? Sudah sampai mana tingkat ukhuwah kita dengan mereka? Kenal, paham, saling tolong, atau senasib sepenanggungan?

0 komentar:

Posting Komentar