Sabtu, 06 Agustus 2011

Yang Rasis itu Zionis, Bukan Ra’id Solah

Penangkapan Syeikh Ra’id Solah oleh pemerintah Inggris minggu lalu nyata-nyata merupakan sebuah kezhaliman. Ra’id Solah merupakan salah satu pemimpin penting bagi 1,7 juta rakyat Palestina yang hidup di kawasan yang dijajah Zionis Israel. Penangkapan itu akan menjadi aib yang akan terus menempel di wajah sistem peradilan Inggris dalam waktu yang cukup lama.
Ra’id Solah ditangkap sama sekali bukan karena melanggar aturan hukum apapun di Inggris, melainkan, diduga kuat karena munculnya keluhan dari kelompok-kelompok Zionis di negeri itu. Pada akhirnya, motif utama penangkapan itu adalah untuk membungkam salah seorang tokoh yang paling vokal dalam membela hak-hak rakyat Palestina. Inilah pria yang selama ini berkali-kali dipenjara, difitnah, dan bahkan coba dibunuh oleh intelijen Israel.
Saya tidak sedang membicarakan seseorang yang tidak saya kenal. Sejak akhir tahun 1980-an, saya sudah bertemu Ra’id Solah berkali-kali. Saya mengunjungi beliau di rumahnya di Umm Al-Fahm dan menghadiri majelis-majelisnya.
Dari interaksi akrab bersamanya, saya bisa merasakan secara pribadi keikhlasannya, kesalehannya, dan kebersihan akhlaknya. Dia adalah seorang pria yang lebih mementingkan kelurusan moral daripada kelurusan politik. Dia tidak akan membatalkan niat untuk menyuarakan kebenaran hanya karena khawatir pada reaksi publik yang negatif.
Syeikh Ra’id Solah berpegang tegung pada prinsip-prinsip yang lurus. Dia merasa berkewajiban angkat bicara melawan kezaliman, khususnya kezaliman Israel yang pornografik yang diderita oleh rakyatnya di kedua sisi Garis Hijau, baik di Jalur Gaza maupun di Tepi Barat, begitu pula yang ada di dalam kawasan yang dijajah Israel.
Di dalam sejarah dunia, Ra’id Solah memenuhi syarat untuk masuk dalam daftar yang berisi nama-nama besar pria dan wanita yang berdiri tegak di hadapan penguasa, melemparkan gugatan-gugatan moral untuk membela mereka yang lemah, yang tertindas, dan yang tak berdaya.
Karenanya, menyebut Ra’id Solah sebagai seorang rasis –sebagai alasan penangkapan yang dipakai pemerintah Inggris– adalah sebuah penghinaan terhadap kebenaran, yang hanya bisa dilakukan oleh makhluk yang bodohnya tidak tertolong, atau oleh para pendusta yang berpikiran jahat.
Tidak perlu diragukan lagi, pihak intelijen Israel akan melakukan segala cara untuk memfitnah, menjelek-jelekkan, dan mengkriminalkan Syeikh Ra’id Solah.
Pada bulan Oktober tahun 2000, agen-agen Shin Beth (badan intelijen dalam negeri Israel) berusaha menyelipkan beberapa gram ganja ke dalam kantongnya, dengan harapan hal itu bisa merusak citra beliau di kalangan rakyat Palestina. Beberapa tahun kemudian, beliau dituduh mendorong terorisme dan membahayakan keamanan Israel.
Menariknya, tuduhan “terorisme” datang dari sebuah negara yang terus-menerus melembagakan dan mempraktikan terorisme, bahkan sesudah 63 tahun berdirinya negara haram yang tidak akan pernah ada di muka bumi kalau bukan untuk tujuan menteror, membantai, dan mengusir jutaan warga asli tanah Palestina.
Dalam sepuluh tahun terakhir, Shin Beth cukup dibikin kerepotan oleh berbagai kegiatan Syeikh Ra’id Solah yang vokal dan efektif. Tema utama berbagai ceramah dan seruannya ialah menyelamatkan Masjidil Aqsha dari berbagai tindakan jahat dan rencana-rencana penuh permusuhan yang dirancang Zionis Israel.
Shin Beth kerepotan justru karena Syeikh Ra’id Solah tidak menggunakan kekerasan dalam perjuangannya. Beliau menghidupkan jiwa-jiwa yang mati dan semangat-semangat yang pingsan, bukan saja di Palestina, tapi di seluruh dunia.
Seluruh jenis tuduhan coba ditujukan kepadanya. Mulai dari adanya “kontak” dengan kelompok-kelompok “teroris”, sampai tuduhan memberi makan, minum, dan pakaian kepada “anak-anak teroris”.
Perlu diketahui, Israel mengklasifikasi rakyat Palestina dalam dua kategori: Pertama, “teroris” yang menentang penjajahan Israel, meskipun dengan cara-cara damai. Mereka yang masuk dalam kategori ini harus disingkirkan dengan segala cara. Kedua, para “kolaborator teroris”, yaitu mereka yang diam saja atau tidak berbuat apa-apa, atau setuju untuk menjadi informan bagi rakyatnya sendiri.
Syeikh Solah dan sekelompok kecil rekannya di Gerakan Islam Palestina 1948 di dalam kawasan yang dijajah Israel telah merasakan penjara berkali-kali dalam waktu cukup lama, sebagian besar karena tuduhan yang tak bermakna. Di negera lain yang memiliki sistem hukum yang kredibel, tuduhan-tuduhan yang dikenakan atasnya pasti sudah akan dibatalkan karena dianggap terlalu mengada-ada.
Tapi kita sedang membicarakan Israel, sebuah negara yang menyebut dirinya satu-satunya demokrasi di Timur Tengah tapi pada kenyataannya melakukan pemerkosaan atas seluruh aspek elementer dari keadilan, misalnya anggapan bahwa seorang tertuduh dianggap tidak bersalah sampai ia terbukti bersalah di pengadilan.
Dalam sistem hukum Israel, khususnya bagi non-Yahudi, khususnya lagi bagi warga Palestina, prinsip tersebut diberlakukan secara terbalik, yaitu seorang tertuduh dianggap bersalah sampai ia terbukti tidak bersalah.
Tahun-tahun belakangan ini, penyelenggara peradilan Israel, sebuah negeri yang berlandaskan kezhaliman dan penindasan, sedang mengalami sebuah metamorfosis Kafkaesque. Seorang warga Palestina, bahkan yang tidak pernah melemparkan batu ke arah serdadu Israel bersenjata lengkap yang sedang menyerang sebuah kampung, akan dianggap bersalah meskipun sudah terbukti tidak bersalah.
Inilah sebabnya kenapa ribuan warga Palestina tak bersalah, termasuk para tokoh politik, anggota parlemen, guru-guru besar, dan kaum profesional dari berbagai bidang, dipaksa hidup menderita di penjara-penjara kelam dan kamp-kamp konsentrasi semata-mata karena pemikiran, pendapat, dan perasaan-perasaan mereka.
Untuk menutup artikel ini, saya ingin bertanya kepada alam kesadaran rakyat Inggris: apakah standar moral yang bisa dipakai untuk menangkap dan memenjarakan orang yang yang tak pernah menyakiti kehidupan orang lain seperti Syeikh Ra’id Solah, sementara para kriminal seperti Ehud Barak, Moshe Ya’alon, dan Ariel Sharon, yang tangannya berlumuran darah rakyat tak berdosa, diperlakukan secara kenegaraan oleh para pelaksana pemerintahan Inggris?
Inggris yang merampas Palestina dari kekhalifahan Islam Utsmaniyah dan menyerahkannya kepada Yahudi Zionis di atas pinggan perak berkilau secara sejarah bertanggung jawab atas penderitaan rakyat Palestina. Betapapun, bukannya menyadari dan memperbaiki dosa-dosa sejarahnya, yang telah menyebabkan bencana, kematian, dan kesakitan jutaan orang, Inggris nampaknya masih setia pada mentalitas jahat yang memotivasi Lord Balfour 94 tahun silam yang menjanjikan dan menyerahkan tanah Palestina kepada Yahudi Zionis.* (sahabatalaqsha.com)

0 komentar:

Posting Komentar