Sabtu, 06 Agustus 2011

‘Ketika Tentara Zionis Menangkap Ayahku’: Diary Hanin

image
Hanin Qatamesh, seorang mahasiswi American University di Kairo, menuliskan kejadian saat tentara Zionis secara brutal menyandera keluarganya lalu menangkap ayahnya pada 21 April lalu.
Hanin lahir di New York pada tahun 1989. Ia lalu tinggal di Ramallah, Palestina, hingga lulus Sekolah Menengah Atas. Berikut penuturan Hanin yang dimuat di situs Electronic Intifada:
Lepas tengah malam pada Rabu, 21 April 2011, aku yang sedang libur dari kuliahku di Kairo, berbincang-bincang dengan ibuku. Tiba-tiba, kami mendengan ketukan keras di pintu rumah kami bersama teriakan, “Iftah bab! (Buka pintu!)”
Kami mengintip dari balik tirai dan menyadari ada banyak tentara Zionis di luar rumah. Kami terkepung. Tidak lama kemudian, tentara Zionis berseragam lengkap itu menerobos dan menjajah rumah kami.
Ditodong Senapan
Para tentara Zionis itu menodongkan senapan mereka dan mengatakan bahwa mereka hendak menggeledah rumah kami. Nai, sepupuku yang berusia 14 tahun dan bibiku yang berusia 69 tahun sedang tidur ketika itu.
Tanpa berpikir, aku segera berlari menuju kamarku. Berupaya melindungi Nai agar ia tidak terbangun dengan senapan ditodongkan di depan wajahnya.
Karena itulah pengalaman masa kecilku yang paling menakutkan, ketika tentara Zionis menangkap ayahku bertahun lalu.
Ibuku pun segera membangunkan bibiku. Lalu demikianlah, kami, empat perempuan Palestina dengan beragam usia, dikepung sekian banyak senapan siap tembak.
Tentara Zionis itu menggeledah rumah kami. Mencabut kabel telepon kami, meniadakan hubungan kami dengan dunia luar.
Aku tidak mampu mencegah air mata yang mengalir di pipiku, sebesar apa pun usahaku untuk tidak menangis di depan tentara-tentara Zionis itu.
Tertawa, ‘Ngobrol
Nai seolah membaca pikiranku dan mengatakan, “Dengar, kita bisa memilih untuk menangis atau justru bicara tanpa henti.”
Maka aku dan Nai berupaya mengalahkan rasa takut kami, lalu bicara, tertawa, dan bercanda. Cukup untuk membuat tentara-tentara tersebut menyesali invasi kasar mereka.
Untuk menenangkan kami, Nai memutar lagu “Li Beirut” di i-Pod miliknya, sebuah lagu indah dari penyanyi Lebanon, Fairouz.
Salah seorang dari tentara Zionis tersebut melihatnya dan berseru geram, “Serahkan padaku barang tersebut!”
Nai menyerahkan i-Pod miliknya sambil mengejek, “Pengecut! Dengan Fairouz saja kau takut!”
Saat mereka hendak memasuki kamarku, aku mengingatkan komandan tentara Zionis tersebut, “Macbook dan Blackberry milikku ada di dalam, aku harap mereka tetap berada di sana setelah kalian selesai menggeledah.”
“Kami tidak pernah mengambil apapun yang bukan hak kami,” sang komandan menjawab.
‘Pencuri!’
Tanpa mampu kutahan, aku berteriak, “Selain mencuri tanah kami, tentara ‘Israel’ telah banyak mencuri barang berharga dari rumah-rumah rakyat Palestina. Jangan berani-berani mengatakan padaku bahwa kalian tidak pernah mencuri apapun!”
Senapan M-16 buatan Amerika Serikat milik sang komandan disorongkan ke arahku. Mau tidak mau, aku terdiam.
Mereka mengatakan bahwa mereka mencari ayahku, Ahmad Qatamesh. Tanpa menjelaskan alasan mereka hendak menahan ayahku.
“Beliau tidak ada di sini,” ibuku memberi tahu tentara-tentara itu. Mereka menjawab bahwa ayahku akan datang ke rumah kami, tidak lama lagi.
Saat itulah kami sadar, bahwa kami sedang dijadikan sandera agar ayahku menyerahkan diri.
Ayahku adalah ilmuwan politik berumur 60 tahun. Ia juga seorang penulis dan advokat hak asasi manusia yang dihormati masyarakat Palestina.
Sang komandan Zionis lagi-lagi menodongkan senjatanya kepadaku dan memaksaku menelepon ayahku.
Setelah tersambungkan dengan ayahku yang sedang berada di rumah pamanku, komandan tentara itu merebut telepon dan mengancam ayahku, “Serahkan dirimu atau kami akan menghancurkan rumahmu!”
Ayahku balas berteriak, cukup keras hingga aku dapat mendengar ucapannya, “Kalian melanggar hak asasi kami. Kalian tidak punya hak berada di rumah kami. Sini datang! Tangkap aku! Lalu tinggalkan keluargaku!”
Beberapa dari mereka pergi untuk menangkap ayahku. Setelah ayahku mereka tangkap, salah seorang yang menjaga di rumah kami berkata sebelum ia pergi, “Ayahmu ada pada kami. Kami akan mengurus dirinya.”
Dengan menahan tangisan, aku berteriak, “Dia mampu mengurus dirinya sendiri, dasar penjahat!”
‘Aku Warga Amerika’
Apa yang dilakukan oleh tentara Zionis ini adalah prosedur operasi yang jamak dilakukan. Kali ini, aku sebagai warga negara Amerika tidak akan diam. Aku akan menceritakan ini kepada dunia. Tentang kebrutalan Zionis yang telah merampas tanah kami, juga rumah-rumah kami.
Karena inilah hal paling prinsip yang kupelajari dari ayahku, untuk tidak pernah berhenti mewujudkan mimpiku, mimpi kami; kebebasan Palestina.

0 komentar:

Posting Komentar